Benua Antartika yang Menjadi Tempat Terkering di Dunia

Benua Antartika yang Menjadi Tempat Terkering di Dunia

Benua Antartika yang Menjadi Tempat Terkering di Dunia – Gurun pasir memang merupakan salah satu tempat paling kering yang ada di Planet Bumi. Curah hujan yang begitu rendah di sana serta sedikitnya keanekaragaman hayati merupakan gambaran umum gurun pasir.

Namun, gurun pasir yang kering ternyata bukanlah tempat terkering di dunia. Kebanyakan orang bisa jadi menjawab Gurun Sahara saat ditanya mengenai di manakah tempat terkering di dunia. ASLIDOMINO

Benua Antartika yang Menjadi Tempat Terkering di Dunia

Memang betul jika Sahara dengan curah hujan kurang dari 20 milimeter per tahun mencerminkan kondisi gurun pasir yang kering.

Namun, ternyata masih ada tempat yang lebih kering dibandingkan gurun terluas di dunia itu.

Tempat terkering di dunia itu ternyata tidak berada di Benua Afrika, Australia, atau Amerika, melainkan ada di Benua Antartika. AGEN JUDI TERPERCAYA

Tentu banyak orang tidak menyangka jika di benua yang senantiasa tertutup es itu terdapat tempat terkering di dunia.

Dry Valleys, Antartika

Dry Valleys menjadi salah satu titik di Benua Antartika yang merupakan tempat terkering dunia. Faktanya adalah curah hujan kurang dari 20 milimeter per tahun Gurun Sahara masih lebih baik daripada curah hujan di Dry Valley.

Curah hujan di Dry Valleys adalah 0. Tentu perbandingan jumlah curah hujan ini menjadikan Gurun Sahara masih kalah kering dibandingkan dengan Dry Valleys.

Wilayah Dry Valleys memang berbeda dari sekitarnya. Memang Benua Antartika tertutup es. Namun ada pengecualian, salah satunya adalah di kawasan Dry Valleys yang malah tidak tertutup oleh es.

Tak hanya karena curah hujan yang rendah Seolah kurang dengan curah hujan mencapai titik 0 per tahunnya, masih ada beberapa faktor yang menyebabkan Dry Valleys semakin kering.

Lokasinya di tengah pegungungan nan menjulang tinggi menghalangi es yang mengalir ke laut untuk mencapai lembah. AGEN DOMINO TERPERCAYA

Pegunungan sekitar Dry Valleys tidak hanya menghalangi es untuk mencapai lembah.
Bentang alam tersebut menyebabkan terjadinya fenomena embusan angin katabalic yang kuat dari puncak-puncak pegunungan menuju lembah.

Udara dingin yang padat itu berembus kencang menuruni lereng pegunungan karena gaya gravitasi. Kecepatan angin yang mencapai 322 kilometer per jam mampu memanaskannya sehingga menguapkan lapisan air, es, dan salju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *